Harga BTC Mulai Pulih, ETH Setali Tiga Uang? — Blockchain Media Indonesia

Pasar aset kripto menunjukan tanda pemulihan, dengan harga Bitcoin (BTC) yang melonjak mendekati level US$27.000.

Adapun, total kapitalisasi pasar aset kripto yang sebelumnya sempat turun ke level terendah tiga bulan lalu sebesar US$1,02 triliun, telah kembali menguat ke US$1,08 triliun.

Selain itu, Ethereum (ETH) juga kembali menghijau dengan kembali bertengger mendekati level US$1.750.

Harga BTC Mulai Pulih 

Kenaikan juga diikuti sebagian besar altcoin lainnya yang juga ikut menguat seperti Solana (SOL) dan Polygon (MATIC). SOL kembali menguat ke US$16.20 naik 4,42%, MATIC menguat ke US$0,616 naik 3,06% dalam 24 jam terakhir.

“Awal minggu ini terlihat adanya upaya recovery Bitcoin jika dilihat dari sisi harga. Berbagai sentimen positif dapat menjadi katalis, seperti kelanjutan berita bahwa SEC telah sepakat tidak membekukan aset Binance AS pada akhirnya memberikan titik terang sementara,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha.

Menurut Panji, selain kabar tersebut, terdapat beberapa katalis positif yang mendorong upaya pemulihan harga BTC.

Manajer aset terbesar dunia yaitu BlackRock, telah mengajukan Bitcoin sebagai Exchange-Traded Fund (ETF), salah satu instrumen investasi yang menggunakan BTC sebagai nilai aset dasar.

Jika spot Bitcoin ETF ini mendapatkan persetujuan oleh SEC, maka berpotensi menjadi katalis positif bagi BTC karena adanya peluang likuiditas baru yang kemungkinan besar masuk dari institusi yang membeli ETF tersebut.

“Jika disetujui oleh SEC, maka hal ini dapat mendorong berbagai manajer aset besar dunia untuk mengajukan Bitcoin sebagai ETF dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin. Hal ini dapat menjadi sentimen positif bagi BTC menjelang halving day pada 2024 mendatang. Bitcoin secara historis mengalami akumulasi yang kuat terhadap setiap menjelang halving day. Hasil serupa dalam 10 bulan ke depan akan mendukung kenaikan di paruh kedua tahun 2023,” ujar Panji.

Sementara itu, Bitcoin dominance mencapai 50 persen untuk pertama kalinya dalam 2 tahun terakhir. Pengajuan ETF spot Blackrock dan tindakan keras SEC AS terhadap aset kripto mendorong investor menuju BTC.

Sekadar informasi, Bitcoin dominance adalah ukuran persentase dari nilai pasar Bitcoin dalam total kapitalisasi pasar seluruh aset kripto yang ada.

Berdasarkan data Coinmarketcap yang diakses pada hari Selasa (20/6/2023) pagi pukul 08.00 WIB, Bitcoin dominance (BTC.D) bertengger di 50,05 persen.

“Ini berarti Bitcoin menyumbang setengah dari total kapitalisasi pasar aset kripto US$1,08 triliun dengan kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini mencapai US$522 milyar,” tambah Panji.

Katalis positif lainnya adalah dari serangkaian data ekonomi AS seperti Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tahunan yang turun menjadi 4 persen di bulan Mei, di bawah ekspektasi 4,1 persen yaitu mencapai level terendah sejak Maret 2021.

Selain itu, FOMC The Fed pada pekan lalu juga mempertahankan suku bunga di 5,00 persen-5,25 persen, menjadi katalis positif bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Dari sisi industri aset kripto dilaporkan perkembangan adopsi kripto di Asia juga berlanjut, BOCI, bank investasi yang dimiliki oleh Bank of China, berhasil menerbitkan tokenisasi sekuritas (efek) di blockchain Ethereum dengan bantuan UBS.

Tokenisasi sekuritas yang diterbitkan adalah nota terstruktur senilai 200 juta CNH, setara  US$28 juta atau Rp414,94 milyar, yang sepenuhnya digital.

Itu menjadikan BOCI sebagai lembaga keuangan tradisional (TradFi) Tiongkok pertama yang menerbitkan tokenisasi sekuritas di Hong Kong.

Dari dalam negeri, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti) telah merilis daftar terbaru yang terdiri dari tambahan-tambahan aset kripto, yang saat ini berjumlah 501 aset yang legal dan boleh diperdagangkan di Indonesia.

Daftar tersebut tercantum dalam Peraturan Bappebti (PerBa) Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Daftar terbaru aset kripto yang legal dari Bappebti dapat memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat dalam melakukan perdagangan aset kripto, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan investor Indonesia dalam perdagangan aset kripto.

Analisis Teknikal Bitcoin dan Ethereum Minggu ini

Kemarin pagi (20/6/2023), harga BTC bergerak menguat mendekati level US$27.000. Selanjutnya, BTC berupaya untuk breakout area descending upper trendline.

Jika berhasil breakout, BTC akan menguat ke area MA-100 di US$27.580. Sebaliknya, Jika breakdown area descending upper trendline, maka BTC berpotensi akan melemah ke area dynamic support MA-20 di US$26.400.

Sementara, indikator Stochastic bergerak memasuki zona jenuh beli dan MACD histogram bar dalam momentum bullish.

Secara teknikal, pekan lalu harga ETH berhasil rebound dari MA-200 dan kembali membangun momentum dengan menguat ke level US$1.740. Selanjutnya, ETH berpotensi akan menguji area MA-20 di kisaran US$1.790.

Jika berhasil breakout MA-20, maka ETH akan lanjut menguat ke US$1.845. Sebaliknya, jika gagal ETH akan lanjut melemah menuju dynamic support MA-200 yang berada di kisaran US$1.645.

Indikator Stochastic menguat di bawah area jenuh beli dan MACD histogram dalam momentum bearish yang terbatas. [st]

 

 

Tiga Bank Sentral Tengah Menguji Proyek CBDC Mereka — Blockchain Media Indonesia

Dalam perkembangan signifikan di dunia mata uang digital, tiga bank sentral telah memulai program uji coba untuk mata uang digital bank sentral (CBDC) mereka.

Pengumuman ini datang dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT), pemimpin global dalam layanan pesan keuangan yang aman.

Tiga Bank Sentral Tengah Menguji Proyek CBDC 

Berdasarkan laporan Dailyhodl, pengumuman terbaru dari SWIFT menandai saat penting dalam evolusi CBDC. Organisasi ini memasuki fase baru dalam pekerjaannya, berfokus pada peningkatan interoperabilitas CBDC.

Fase ini melibatkan pengujian beta dari sistem baru yang dirancang untuk menghubungkan CBDC dengan partisipasi dari 30 lembaga keuangan yang sedang menjelajahi berbagai kasus penggunaan.

Di antara bank sentral yang berpartisipasi dalam inisiatif revolusioner ini, Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) dan Bank Nasional Kazakhstan telah memimpin dengan mengintegrasikan solusi baru ke dalam infrastrukturnya yang ada untuk pengujian langsung. Identitas bank sentral ketiga yang terlibat masih dirahasiakan pada saat ini.

Chief Innovation Officer di SWIFT, Tom Zschach, menekankan pentingnya interoperabilitas dalam dunia CBDC.

“Fokus kami adalah pada interoperabilitas, memastikan bahwa mata uang digital baru dapat hidup berdampingan dengan satu sama lain dan dengan mata uang fiat dan sistem pembayaran saat ini,” ujar Zschach.

Zschach juga mengakui potensi inovasi dari CBDC SWIFT dalam menjembatani kesenjangan antara sistem pembayaran saat ini dan mata uang digital masa depan.

“Fase pengujian dan eksplorasi selanjutnya ini akan membantu kami untuk lebih menyempurnakan solusinya agar efektif sebanyak mungkin, dan dapat diimplementasikan secara luas,” tambahnya.

Kebutuhan akan interoperabilitas dalam ranah CBDC timbul dari kenyataan bahwa hampir 130 negara saat ini sedang menggali teknologi ini. Proliferasi CBDC yang berbeda-beda dapat mengakibatkan masalah fragmentasi di masa depan.

SWIFT mengenali tantangan ini dan telah menjadikan solusi interoperabilitas sebagai prioritas utama.

Teknologi penghubung inovatif SWIFT telah mendemonstrasikan kemampuannya untuk memfasilitasi transaksi yang lancar antara berbagai sistem CBDC berbasis blockchain yang berbeda, bahkan ketika mereka dibangun di atas kerangka kerja yang berbeda.

Prestasi ini adalah langkah signifikan untuk mengatasi potensi fragmentasi dalam lanskap mata uang digital.

Untuk mengatasi tantangan ini, SWIFT telah bekerja pada interoperabilitas CBDC selama lebih dari 18 bulan.

Dalam fase awal eksperimen dan pengujian sandbox, sekitar 5.000 transaksi simulasi telah dilakukan antara dua jaringan blockchain yang berbeda dan sistem pembayaran fiat yang ada.

Bank sentral dan komersial yang terlibat dalam proses pengujian memuji penghubung SWIFT karena memungkinkan pertukaran yang lancar antara CBDC, bahkan ketika mata uang digital ini dibangun di atas platform yang berbeda. [st]

 

Inilah Tiga Sektor Kripto Wajib Lirik Tahun 2024 — Blockchain Media Indonesia

Dalam video terbaru dari channel YouTube Crypto Banter, pembawa acaranya menggali dunia kripto, menyoroti tiga sektor utama yang diprediksi akan mendorong siklus pasar selanjutnya.

Tiga Sektor Kripto Wajib Lirik 

Menurut pembawa acara itu, sektor-sektor ini seharusnya menjadi inti dari portofolio investor kripto karena mereka menawarkan potensi pertumbuhan dan inovasi yang signifikan, dilansir dari Coin Edition.

Spekulasi dalam Ruang Kripto

Sektor pertama yang diutamakan dalam video tersebut adalah daya tarik abadi spekulasi dalam ruang kripto.

Dia berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk berjudi, dan kripto, yang sering disebut sebagai kasino terbesar dan paling mudah diakses di dunia, berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan perilaku manusia yang melekat ini.

Dalam ranah spekulasi, pembawa acara itu menyoroti platform perjudian dan bursa terdesentralisasi (DEX) sebagai dua vertikal pertumbuhan kunci. Dia menunjuk Rollbit sebagai contoh platform perjudian yang telah mendapatkan popularitas.

Dengan minat terus meningkat dalam kripto dan kemudahan akses ke platform-platform ini, potensi pertumbuhan dalam sektor ini tetap besar.

Tokenisasi Aset Dunia Nyata

Sektor kedua yang disorot dalam video tersebut sebagai penyedia pengembalian signifikan di tahun 2024 adalah tokenisasi aset dunia nyata.

Sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi), meskipun menghadapi tantangan akibat naiknya suku bunga global, akan mengalami transformasi melalui tokenisasi aset nyata.

Video tersebut merujuk pada data dari Boston Consulting Group, yang memproyeksikan pertumbuhan yang signifikan dalam sektor tokenisasi aset dunia nyata.

Diperkirakan sektor ini dapat berkembang dari nilai saat ini sekitar US$0,6 triliun menjadi sebesar US$16 triliun pada tahun 2030. Potensi pertumbuhan ini telah menarik perhatian investor yang ingin diversifikasi portofolio kripto mereka.

Investasi dalam protokol aset dunia nyata individual atau blockchain layer-1 dan layer-2 yang kemungkinan akan menjadi pusat untuk aset yang ditokenisasi direkomendasikan.

Meskipun yang pertama mungkin memiliki risiko lebih tinggi, itu juga menawarkan potensi imbalan yang lebih tinggi.

AI dan Teknologi Blockchain

Sektor ketiga yang dibahas oleh pembawa acara adalah konvergensi dua teknologi revolusioner, yaitu kecerdasan buatan (AI) dan teknologi blockchain.

Dia menyarankan para investor untuk mempertimbangkan sisi infrastruktur AI, dengan mencatat proyek seperti Render, yang mendesentralisasi kekuatan GPU dan berkontribusi secara signifikan pada pertumbuhan sektor ini.

Selain itu, pembawa acara tersebut menekankan pentingnya menyimpan dana untuk proyek-proyek AI baru dan belum dirilis.

Dia merekomendasikan menggunakan stablecoin untuk dollar cost averaging (DCA) ke dalam proyek-proyek baru ini saat mereka menjadi tersedia.  [st]

 

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.