Alasan Binance Harus Hengkang dari AS — Blockchain Media Indonesia

Bursa kripto ternama Binance dan CEO-nya Changpeng Zhao, mungkin terpaksa harus hengkang dari AS secara permanen menyusul keluhan yang diajukan oleh SEC AS terhadap bursa tersebut dan afiliasi AS-nya.

Forbes melaporkan bahwa, Philip Moustakis, seorang mitra dari firma hukum Seward & Kissel yang berbasis di New York, mengatakan bahwa Binance mungkin akan memilih untuk keluar dari pasar AS untuk memfasilitasi penyelesaian dengan Komisi tersebut.

“Jika Binance setuju untuk meninggalkan AS, menutup semua operasi di AS dan tidak lagi mengakses pasar modal dan investor AS, saya rasa akan lebih mudah bagi mereka untuk menemukan penyelesaian tersebut,” ujar Philip.

Binance Harus Hengkang dari AS? 

Sebelumnya, SEC telah mengajukan mosi darurat di pengadilan federal untuk Distrik Kolombia, meminta agar aset afiliasi Amerika Binance, Binance US, dibekukan dan aset kripto serta mata uang konvensional yang dimiliki oleh pelanggan repatriasi.

Tindakan SEC ini dilakukan sehari setelah SEC mengajukan keluhan sebanyak 13 tuduhan terhadap Binance, entitas terkait, dan Changpeng Zhao.

SEC menuduh perusahaan tersebut mengabaikan undang-undang sekuritas federal dan menyatakan bahwa Binance dan Zhao telah memperkaya diri dengan milyaran dolar AS sambil mengancam aset para investor.

Sebagai respons terhadap pengajuan SEC, seorang perwakilan dari Binance US mengeluarkan pernyataan di Twitter yang menyebutkan bahwa pengajuan awal tidak beralasan.

“Pengajuan keputusan awal tidak beralasan dan lebih didasarkan pada staf SEC yang mendapatkan keuntungan dalam litigasi versus kekhawatiran yang tulus tentang keamanan aset pelanggan,” ungkap tim Binance.

Forbes melaporkan bahwa, SEC juga meminta pengadilan untuk membekukan aset bursa kripto tersebut, sembari memastikan keamanan aset pelanggan di AS.

Sebelumnya, Commodity Futures Trading Commission (CFTC) telah mengajukan keluhan terhadap bursa kripto tersebut.

CFTC menuduh bursa tersebut menawarkan derivatif kripto kepada individu di AS tanpa mendaftarkan diri sebagai pedagang komoditas berjangka.

Mikkel Morch, Ketua dan Direktur non-eksekutif ARK36, menyatakan bahwa tuduhan baru ini dapat meningkatkan tekanan pada Binance.

Morch menyebutkan bahwa konsekuensi potensialnya dapat meliputi denda besar, sanksi, dan bahkan penangguhan atau penghentian operasi di pasar AS.

Selain itu, Binance mungkin akan menghadapi pengawasan yang lebih ketat dari otoritas regulasi di yurisdiksi lain, yang akan mempengaruhi operasi dan rencana ekspansinya.

Sementara, Kevin O’Brien, Mitra dari Ford O’Brien Landy dan mantan jaksa AS, membandingkan keseriusan tuduhan SEC terhadap bursa tersebut dengan tuduhan yang diajukan terhadap FTX yang gagal pada bulan November.

O’Brien mencatat bahwa meskipun tuduhan pidana tidak diajukan terhadap Binance dan Zhao, kemungkinan tuduhan tersebut dapat muncul di kemudian hari. [st]

 

 

Ini Alasan Bank Australia Blokir Transaksi Crypto Exchange — Blockchain Media Indonesia

Dalam upaya berkelanjutan melawan penipuan dalam dunia crypto, beberapa bank di Australia, termasuk Commonwealth Bank (CBA) dan ANZ, mengambil sikap tegas dengan memberlakukan pembatasan pada crypto exchange.

Direktur Manajemen Blockchain dan Aset Digital di Commonwealth Bank (CBA), Sophie Gilder, mengungkapkan dalam sebuah diskusi panel bahwa satu dari tiga dolar yang ditipu dari warga Australia terkait dengan crypto.

Langkah-langkah tersebut, yang bertujuan untuk mengurangi dampaknya pada nasabah, mencerminkan pandangan bersama antara bank-bank dan pemerintah bahwa penipuan dalam dunia crypto telah mencapai tingkat yang tidak dapat diterima.

Bank di Australia Batasi Crypto Exchange 

Meskipun beberapa orang mengkritik pembatasan ini, yang lain menyadari perlunya kerja sama antara bank-bank, penyedia pembayaran, dan industri crypto untuk secara efektif mengatasi penipuan.

Saat penipuan terkait crypto terus melanda Australia, beberapa bank besar seperti Commonwealth Bank (CBA) dan ANZ mengambil tindakan tegas untuk mengatasi masalah ini.

Berdasarkan laporan Cointelegraph, Gilder pun menekankan bahwa pembatasan pembayaran crypto exhange oleh bank tersebut didasarkan pada analisis data dan identifikasi pelaku yang tidak bertanggung jawab, bukan bertujuan menyerang industri secara keseluruhan.

“Dari sudut pandang pemerintah, [mereka] perlu berinvestasi lebih banyak untuk mengurangi penipuan, dan itu adalah pemerintah, tetapi juga bank, orang lain dalam sistem keuangan harus bekerja sama untuk mengurangi penipuan guna menjaga kepercayaan dalam sistem,” ujar Asisten Menteri Keuangan Australia, Trevor Power.

Selain itu, Ketua Blockchain Australia Michael Bacina telah mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara bank-bank dan industri crypto untuk bersama-sama mengatasi masalah ini.

Bacina menekankan pentingnya mengurangi penipuan agar kepercayaan terhadap sistem keuangan tetap terjaga.

Pemberlakuan pembatasan oleh beberapa bank di Australia, termasuk Commonwealth Bank (CBA) dan ANZ, terhadap pembayaran tertentu pada crypto exchange telah menimbulkan reaksi yang beragam.

Meskipun beberapa berpendapat bahwa langkah-langkah ini, seperti batasan deposit dan penundaan transaksi, diperlukan untuk melawan masalah penipuan yang semakin meningkat yang melibatkan aset digital, ada juga keprihatinan mengenai dampaknya pada crypto exchange dan nasabahnya di Australia.

Ahli Hukum Aaron Lane membela tindakan bank dengan menyoroti tekanan yang semakin meningkat yang dihadapi oleh lembaga keuangan untuk mengatasi risiko yang terkait dengan penipuan crypto.

“Bank dan lembaga keuangan lainnya berada di bawah tekanan yang meningkat untuk mengatasi masalah penipuan yang melibatkan crypto. Memaksakan penundaan waktu, menolak transaksi dan menempatkan batas simpanan adalah semua mekanisme bagi bank untuk merebut kembali kendali dan membatasi risiko hukum dan peraturan mereka,” ujar Lane.

Meskipun pendapat yang berbeda-beda, angka yang dirilis oleh Australian Competition and Consumer Commission menegaskan perlunya tindakan segera untuk mengatasi penipuan yang melibatkan crypto, yang mengalami peningkatan kerugian finansial sebesar 162,4 persen dari tahun 2021 hingga 2022. [st]

 

Ini Alasan Teroris Suka Tron (TRX) — Blockchain Media Indonesia

Ruang kripto telah mengalami diversifikasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan berbagai blockchain menjadi semakin terkenal.

Bersamaan dengan pergeseran itu, pelaku kejahatan juga telah menyesuaikan strategi mereka untuk memanfaatkan keuntungan yang ditawarkan oleh berbagai blockchain.

Forbes melaporkan bahwa, laporan terbaru dari perusahaan intelijen blockchain TRM Labs mengungkapkan peralihan aktivitas kriminal dari Bitcoin ke blockchain alternatif seperti Ethereum, Tron (TRX) dan Binance Smart Chain (BSC).

Perubahan besar tersebut disebabkan oleh keuntungan dari transaksi yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah dan likuiditas yang meningkat.

Terutama, Tron (TRX) telah muncul sebagai platform yang signifikan untuk transaksi ilegal, termasuk pendanaan terorisme dan serangan siber.

Melirik Tron (TRX) 

Laporan TRM Labs mengungkapkan bahwa pangsa volume kripto ilegal Bitcoin telah turun dari 97 persen pada tahun 2016 menjadi hanya 19 persen saat ini.

Para penjahat telah memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh blockchain baru ini, mengarah pada munculnya Tron, Ethereum dan BSC sebagai platform yang dipilih untuk aktivitas ilegal.

Dengan menggunakan taktik seperti chain-hopping untuk mencuci uang dan menghindari deteksi, pelaku ilegal telah mengeksploitasi kelemahan dan kesalahan dalam coding di dalam blockchain ini.

Salah satu aspek menarik dari peralihan ini adalah keterlibatan Korea Utara (Korut) dalam ekosistem DeFi.

Kelompok Lazarus yang didukung negara telah dengan cepat menyerang proyek DeFi, dengan fokus mereka beralih dari pencucian uang dengan Bitcoin ke serangan siber pada jembatan infrastruktur.

Insiden yang mencolok termasuk serangan Ronin Bridge, yang mengakibatkan kerugian sebesar US$600 juta, dan eksploitasi Harmony Bridge, yang mencapai US$100 juta.

Likuiditas yang signifikan dan kontrol siber yang lemah di platform seperti Tron telah menarik perhatian para penjahat siber Korut, memanfaatkan kerentanan ini untuk mendanai program-program ilegal mereka, termasuk pengembangan senjata.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tron (TRX) telah menjadi blockchain yang dipilih untuk pendanaan terorisme, menggantikan Bitcoin sebagai kripto yang dominan di bidang ini.

Penelitian TRM Labs menunjukkan bahwa TRON menyumbang 92 persen dari pendanaan terorisme pada tahun 2022.

Kelompok-kelompok pro-ISIS telah mengumpulkan dana yang signifikan melalui kripto, terutama menggunakan stablecoin Tether (USDT).

Biaya transaksi yang lebih rendah dan persepsi tentang anonimitas telah membuat Tron (TRX) menjadi pilihan menarik bagi para penanam dana terorisme yang ingin memindahkan jumlah dana yang lebih kecil dengan cepat dan secara tersembunyi.

Penggeledahan Otoritas Israel atas Dana Ilegal

Menyoroti skala aktivitas ilegal, otoritas Israel baru-baru ini menyita jutaan dolar AS berupa kripto berbasis Tron yang dimiliki oleh Hezbollah, kelompok teroris Lebanon, dan Pasukan Garda Revolusioner Islam Iran.

Penyitaan tersebut ditargetkan pada 40 alamat yang memegang Tether di blockchain Tron.

Operasi tersebut merupakan penyitaan kripto terkait terorisme terbesar yang pernah dilakukan oleh Israel dan menandai pukulan besar bagi Hezbollah dan pendukung utamanya, IRGC.

Peralihan dari Bitcoin ke blockchain alternatif untuk aktivitas ilegal telah mengubah perhitungan risiko yang terkait dengan penggunaan dan kepatuhankripto.

Dominasi Tron dalam pendanaan terorisme dan prevalensi Ethereum dalam serangan siber telah mengubah lanskap aktivitas ilegal.

Ekosistem kripto yang muncul terdiri dari berbagai blockchain, bridge, protokol, bursa, mixing dan aset, membawa peluang baru dan ancaman yang baru pula. [st]

 

Demi Keadilan, Presiden Iran Tegaskan Alasan Dedolarisasi — Blockchain Media Indonesia

Presiden Iran, Ebrahim Raisi menegaskan alasan pentingnya gerakan dedolarisasi, terutama guna membentuk sistem internasional yang adil .

News Bitcoin melansir kutipan oleh Tehran Times atas pernyataan Raisi, dalam pidatonya di KTT ke-23 Dewan Kepala Negara Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) secara virtual pada hari Selasa.

“Yang membentuk dasar dari sistem dominasi Barat adalah dominasi dolar,” ucap Raisi menekan alasan dedolarisasi.

Dalam pidatonya di KTT tersebut, presiden Iran menekankan pentingnya pembentukan tatanan dunia yang lebih adil di mana dolar AS bukan lagi satu-satunya mata uang yang dominan.

“Kekuatan hegemoni Barat, dengan mengandalkan pemaksaan ekonomi dan sanksi, telah mengancam keamanan dan kemakmuran ekonomi serta prinsip-prinsip perdagangan yang adil di dunia,” kata Raisi.

“Dengan mengandalkan pengalaman beberapa dekade terakhir, sekarang cukup jelas bahwa, selain militerisme, yang membentuk dasar dari sistem dominasi Barat adalah dominasi dolar,” katanya.

Oleh karena itu, setiap upaya untuk membentuk sistem internasional yang adil membutuhkan penghapusan instrumen dominasi ini dalam hubungan intra-regional.

“Pengembangan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internasional dan pertukaran keuangan antara anggota organisasi ini dan mitra bisnis mereka membutuhkan perhatian yang lebih serius,” tegas pemimpin Iran tersebut.

“Republik Islam Iran menyambut setiap langkah untuk memperkenalkan instrumen pembayaran keuangan berbasis teknologi modern untuk memfasilitasi pertukaran keuangan antara anggota dan mitra bisnis, terutama dalam kerangka multilateral.”

Sebelumnya diberitakan, Iran menjadi anggota tetap baru SCO dalam KTT tersebut, yang diadakan oleh India dan dipimpin oleh Perdana Menteri India Narendra Modi.

KTT tersebut juga dihadiri oleh Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Di KTT tersebut, Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Rusia Vladimir Putin juga mendorong penggunaan mata uang nasional dalam penyelesaian perdagangan. Menurut Putin, lebih dari 80 persen transaksi komersial antara Rusia dan China dilakukan dalam rubel Rusia dan yuan China.

Presiden Bolivia Turut Gemakan Gerakan Dedolarisasi

Terpisah, Presiden Bolivia, Luis Alberto Arce Catacora juga turut menggemakan gerakan dedolarisasi.

Luis juga mendesak pentingnya membangun aliansi strategis yang lebih kuat dengan organisasi internasional, termasuk kelompok BRICS.

“Kita sedang mengalami saat-saat penting dalam transisi menuju dunia multipolar yang menjamin keseimbangan kekuasaan dan menghormati prinsip non-intervensi,” tekankan presiden tersebut.

Luis Arce menyerukan alasan dedolarisasi dan peningkatan aliansi strategis dengan organisasi internasional, termasuk blok ekonomi BRICS, pada KTT ke-62 Kepala Negara Mercosur dan Negara Terkait di Puerto Iguazú, Argentina.

“Wilayah kami sangat terpengaruh oleh pembatasan yang diberlakukan oleh sistem keuangan utara, yang membatasi pilihan pembiayaan, sehingga perlu mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan mendiversifikasi hubungan ekonomi kami,” tulis Presiden Bolivia dalam cuitan Twitter belum lama ini.

“Kita harus mencari aliansi strategis dengan aktor internasional lain, seperti Tiongkok, dalam sebuah blok Eurasia dan Asia yang, terorganisir dalam kerangka BRICS dan mekanisme integrasi lainnya, diharapkan menjadi ruang bagi pembangunan tatanan ekonomi dunia yang baru,” tambahnya, sebagaimana dikutip News Bitcoin.

Lula telah menyatakan dukungan yang kuat terhadap pengabaian dolar AS dan pengadopsian mata uang nasional dalam penyelesaian perdagangan.

Dia juga mendukung pembentukan mata uang BRICS yang bersama. Bulan lalu, ia mengumumkan niatnya untuk membahas dedolarisasi dalam pertemuan BRICS yang akan datang.

Negara-negara BRICS terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.

Sementara Mercosur, juga dikenal sebagai Pasar Umum Selatan, adalah blok perdagangan Amerika Selatan yang anggotanya adalah Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay.

Venezuela bergabung sebagai anggota penuh pada tahun 2012 tetapi ditangguhkan secara tidak terbatas pada akhir 2016. Bolivia, Chili, Kolombia, Ekuador, Guyana, Peru, dan Suriname adalah anggota terkait Mercosur, dengan Bolivia saat ini dalam proses menjadi anggota penuh. [ab]

Analis Ini Menjelaskan Alasan Di Balik Reli Terbaru Bitcoin — Blockchain Media Indonesia

Dunia kripto menjadi gempar dengan kegembiraan seiring reli yang terjadi pada harga kripto pertama di dunia, Bitcoin (BTC).

Host dari channel YouTube Crypto Banter dan analis kripto berpengalaman, Miles, telah melakukan analisis komprehensif terhadap perilaku bullish terbaru ini.

Dengan menyelidiki bursa terpusat dan mengawasi data on-chain, Miles telah mengungkapkan kekuatan pendorong di balik lonjakan mengesankan Bitcoin, memberikan gambaran tentang apa yang ada di bawah permukaan pasar kripto.

Alasan Di Balik Reli Terbaru Bitcoin 

Coin Edition melaporkan, pemeriksaan teliti Miles terhadap lanskap kripto telah menghasilkan beberapa wawasan yang menarik. Menurut temuannya, lonjakan saat ini Bitcoin sejalan dengan harapan yang diberikan oleh indikator teknikal.

Dia menunjukkan faktor kunci yang memicu lonjakan ini, yaitu pantulan dari support US$25.200, yang dibentuk pada bulan Juni, bersamaan dengan pengungkapan bahwa BlackRock berencana untuk mengajukan spot Bitcoin ETF.

Perkembangan ini meluncurkan Bitcoin ke dalam kisaran perdagangan baru, dengan mantap berada di antara US$25.000 dan US$27.000.

Untuk menggali lebih dalam ke dalam dinamika yang sedang berlangsung, Miles memusatkan perhatiannya pada indikator minat terbuka, alat berharga untuk mengungkapkan manuver tersembunyi dari para whale Bitcoin.

Metrik ini memberikan gambaran tentang posisi pasar berjangka, mencakup posisi long dan short. Analisis tajam Miles mengungkapkan bahwa Bitcoin mengalami nilai minat terbuka harian tertinggi selama lonjakan terbaru.

Dia berspekulasi bahwa lonjakan ini dapat dikaitkan dengan pihak dalam, mungkin beberapa whale yang berpengaruh, menempatkan diri secara strategis dalam antisipasi pasar bullish.

Namun, karena pasar kripto sering rentan terhadap perubahan yang cepat, Bitcoin mengalami retracement selama akhir perdagangan hari Senin (18/9/2023).

Miles mengaitkan penurunan ini dengan munculnya berita yang tidak menguntungkan mengenai Binance dan pemeriksaannya, yang menimbulkan FUD yang signifikan dalam komunitas kripto.

Banyak penggemar kripto khawatir bahwa Binance, pemain utama dalam industri ini, mungkin akan menghadapi masalah ketidakmampuan membayar hutang.

Namun demikian, Bitcoin dengan cepat melanjutkan tren kenaikannya, melampaui level tertinggi yang diamati di awal pekan ini.

Harga Bitcoin dibuka pada US$26.766 dan melonjak hingga mencapai US$27.459 yang mengesankan sebelum mengalami sedikit retracement hingga berada pada US$27.163 pada saat penulisan.

Lonjakan mengagumkan ini tidak hanya menguntungkan Bitcoin saja, ini memiliki efek berantai, mendorong beberapa kripto lainnya untuk ikut serta dalam perjalanan ini dan mengisyaratkan potensi lonjakan lebih lanjut.

Miles, dengan pengetahuan dan keahliannya yang luas, telah mengidentifikasi beberapa altcoin yang dia yakini siap memanfaatkan momentum saat ini Bitcoin. Di antara pesaing menjanjikan ini adalah Stacks (STX), Zcash (ZEC) dan Bitcoin Cash (BCH).

Dia melihat altcoin ini sebagai pemain proxy Bitcoin dan menyarankan bahwa mereka memiliki potensi untuk memberikan pengembalian yang substansial dalam jangka pendek hingga menengah. [st]

 

Ini Alasan Elon Musk Sebut Dolar AS adalah Scam — Blockchain Media Indonesia

Bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk membagikan pendapat di media sosial bahwa mata uang fiat seperti dolar AS adalah scam atau penipuan. Apa alasannya?

Pernyataan provokatif Musk tak pelak, telah memicu kembali debat tentang sistem moneter tradisional.

Media finansial Forbes mengutip argumen Musk yang mendukung apa yang banyak dikemukakan oleh komunitas bitcoin selama bertahun-tahun: bahwa sistem moneter tradisional memiliki cacat mendasar.

Istilah “mata uang fiat” merujuk pada uang seperti dolar AS, euro, atau yen, yang tidak didukung oleh aset fisik seperti emas, melainkan bergantung pada kepercayaan dan otoritas pemerintah.

Dengan komentar singkat Musk, percakapan yang sudah ada tentang peran potensial bitcoin dalam menantang sistem keuangan tradisional mendapat perhatian yang lebih besar lagi.

Bagi pendukung bitcoin, cuitan Musk terdengar seperti sebuah pengakuan tentang keunggulan mata uang digital ini dibandingkan dengan mata uang fiat seperti dolar AS, yang disebut scam.

“Desentralisasi dan ketahanan terhadap inflasi membuatnya menjadi alternatif yang menggoda, beberapa berpendapat. Berbeda dengan mata uang fiat yang tunduk pada kebijakan pemerintah dan bank sentral, bitcoin diatur oleh kode dan konsensus jaringannya,” demikian diterangkan media finansial dalam artikel baru-baru ini.

Komentar Musk, meskipun singkat, seperti bahan bakar pada diskusi kontroversial yang sudah ada tentang peran bitcoin dalam keuangan global. Transisi dari dunia analog ke dunia digital semakin cepat, namun sistem global tidak segera mengikuti.

Di hari-hari mendatang, Musk mungkin akan memberikan penjelasan lebih lanjut tentang pandangan ini atau melanjutkan kebiasaannya dalam membuat posting yang misterius namun menarik perhatian.

“Bagaimanapun juga, pembicaraan tentang masa depan uang, dan ketegangan antara model keuangan lama dan baru, tidak menunjukkan tanda-tanda mereda,” timpal Forbes.

Pada tahun 2021, Musk mengumumkan bahwa Tesla akan berhenti menerima pembayaran dengan bitcoin, dengan alasan masalah lingkungan seputar penambangan bitcoin.

Namun sekarang, Bloomberg melaporkan bahwa lebih dari 50 persen penambangan bitcoin mengandalkan energi terbarukan.

Tonggak sejarah yang signifikan ini bisa membuka kembali peluang bagi Tesla untuk melanjutkan transaksi dengan bitcoin, memberikan dukungan yang kuat untuk aset ini, serta menandakan penerimaan institusional yang lebih luas terhadap bitcoin.

Namun, tantangan seperti familiaritas dan kenyamanan pelanggan dalam menggunakan bitcoin untuk pembelian besar masih ada.

Jika Tesla melanjutkan pembayaran dengan bitcoin, hal ini bisa berdampak pada permintaan dan harga bitcoin, lebih memantapkan peran bitcoin sebagai metode pembayaran yang dapat diterima.

Aktivitas media sosial Elon Musk bersamaan dengan kenaikan signifikan harga bitcoin yang melonjak dari sekitar US$27.000 menjadi lebih dari US$28.000, tertinggi dalam lebih dari sebulan.

Meskipun pengaruh Musk terhadap pasar kripto sudah tercatat dengan baik, kenaikan harga ini mungkin merupakan hasil dari berbagai faktor termasuk potensi penawaran ETF dari BlackRock dan Fidelity, serta mungkin pasar berjangka yang kuat. [ab]

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.