Ripple Labs Menang Melawan SEC? Netizen Disebut Keliru Tafsir Putusan Hakim — Blockchain Media Indonesia


Redaksi media Protos menilai kalangan netizen telah keliru menafsirkan putusan hakim bahwa Ripple Labs telah menang atas Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC).

Media crypto tersebut menjelaskan, hakim di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk New York Selatan, Analisa Torres, telah memutuskan bahwa para terdakwa dalam kasus SEC v. Ripple melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Sekuritas tahun 1933.

Namun, Torres juga memutuskan bahwa para pendiri Ripple, Brad Garlinghouse dan Chris Larsen, harus diadili di depan juri atas pelanggaran yang mereka lakukan.

“Dalam langkah yang diinterpretasikan oleh beberapa pihak sebagai kemenangan sebagian bagi Ripple, Hakim Torres juga sebagian menolak permintaan ringkasan putusan SEC,” terang tim redaksi Protos dalam artikel, baru-baru ini.

Putusan tersebut menyatakan bahwa Ripple secara ilegal menjual sekuritas tidak terdaftar senilai US$728 juta melalui penjualan institusional XRP.

Namun, Torres memutuskan bahwa Ripple tidak secara ilegal menawarkan sekuritas tidak terdaftar senilai US$757 juta melalui penjualan programatik XRP.

Menurut Torres, Ripple juga tidak secara ilegal menawarkan distribusi lain senilai US$609 juta berupa bonus, kompensasi untuk tenaga kerja, dan lainnya, dari XRP.

“Singkatnya, hakim memutuskan secara terbagi. Dia mengabulkan sebagian dan menolak sebagian permintaan ringkasan putusan kedua belah pihak (permintaan ringkasan meminta hakim untuk memutuskan suatu masalah tanpa mengacu pada juri),” terang Protos.

Namun dalam pengamatan pihak redaksi media tersebut, komunitas kripto justru menafsirkan putusan terkait penjualan programatik XRP ditambah halaman 15 yang ditulis dengan membingungkan, sebagai keputusan yang berarti XRP bukanlah sekuritas.

“Hakim tidak mengeluarkan putusan tersebut. Namun, harga XRP naik lebih dari 60 persen dalam beberapa jam setelah berita itu muncul.”

Protos menambahkan, realitasnya lebih rumit karena faktanya Hakim Torres secara eksplisit menolak memutuskan tentang legalitas 99 persen volume perdagangan XRP sejak tahun 2017.

Setelah menjelaskan bahwa penjualan programatik XRP bukanlah penawaran sekuritas yang tidak terdaftar dan penjualan programatik menyumbang kurang dari 1 persen dari volume perdagangan XRP global sejak tahun 2017

Protos lalu merujuk, bahwa hakim Torres hanya memutuskan bahwa penjualan institusional XRP secara ilegal, tetapi penjualan programatik dan distribusi lainnya dari XRP tidak.

“Penjualan institusional jelas-jelas merupakan transaksi sekuritas yang tidak terdaftar. Institusi-institusi tersebut menandatangani kontrak kertas dengan Ripple dan menerima materi investasi dari perusahaan saat membeli XRP. Ripple tidak pernah mendaftarkan penjualan tersebut meskipun hal itu diwajibkan oleh hukum. Sederhana.”

Terkait dengan distribusi lainnya, Hakim Torres memutuskan bahwa tidak ada yang menginvestasikan uang untuk menerima distribusi tersebut — prasyarat pertama dari Uji Howey.

Karena tidak ada yang menginvestasikan uang, tidak ada kontrak investasi yang tidak terdaftar.

Apa itu Penjualan Programatik XRP?

Masih dari artikel yang sama, menurut Protos kategori yang paling menarik bagi komunitas kripto adalah kategori kedua: penjualan programatik.

“Jadi, apa sebenarnya penjualan programatik XRP?”

Protos menjelaskan, berbeda dengan transaksi bursa kripto biasa yang mencocokkan penawaran pelanggan dengan penawaran pelanggan lainnya, yang seringkali sambil melakukan transaksi melawan pelanggan mereka sendiri secara diam-diam.

“Penjualan programatik XRP menyumbang sejumlah kecil volume perdagangan sejak tahun 2017 (US$757 juta dibandingkan triliunan), dijual dalam transaksi penawaran/pemesanan buta, melalui algoritme, di mana pembeli tidak tahu siapa yang menjual,” papar tim redaksi tersebut.

Penawaran dan pemesanan ini bukanlah tindakan manusia secara manual dan tidak melibatkan pelanggan bursa kripto reguler yang menjual XRP.

Menurut Hakim Torres, transaksi khusus ini bukanlah penawaran sekuritas yang tidak terdaftar.

“Yang paling penting, Torres menolak untuk memutuskan apakah 99 persen penjualan XRP di bursa kripto reguler merupakan kontrak investasi yang tidak terdaftar,” imbuh Protos.

Terkini, banyak bursa telah memutuskan untuk kembali mencantumkan XRP.

Dalam prediksi Protos, Ripple dan SEC kemungkinan masih akan melalui berbagai proses banding selama beberapa tahun ke depan.

Meski telah ada putusan dari hakim Torres, pertempuran hukum antara Ripple dan SEC masih jauh dari selesai, dengan potensi banding dan pembahasan yang panjang. Komunitas kripto menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai klasifikasi XRP dan dampaknya pada lanskap regulasi secara lebih luas. [ab]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.