Pakar Bloomberg Samakan Bitcoin dengan Krisis Pasar AS 1930 — Blockchain Media Indonesia


Pakar Strategi Komoditas Senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, telah menjelaskan bahwa bitcoin tampak serupa dengan pasar saham pada tahun 1930.

Pada saat itu, harga saham yang tinggi menyebabkan pasar saham kehilangan hampir 90 persen nilainya. Krisis tahun 1929, yang juga disebut sebagai Great Crash, berkontribusi pada Depresi Besar yang berlangsung sekitar 10 tahun.

Pendapat Pakar: Bitcoin vs Pasar Saham pada Tahun 1930-an

Mike McGlone, seorang pakar strategi komoditas senior untuk Bloomberg Intelligence (BI), lengan riset dari Bloomberg, telah menunjukkan kemiripan antara bitcoin dan pasar saham pada tahun 1930, dikutip dari News.Bitcoin.

Dia mengirimkan cuitan pada hari Senin (21/8/2023):

“Salah satu aset dengan performa terbaik dalam sejarah dan indikator utama — bitcoin — tampak serupa dengan pasar saham pada tahun 1930,” ujar McGlone.

“Pakar statistika dan pengusaha Roger Babson mulai memperingatkan tentang harga saham yang tinggi jauh sebelum ekonom Irving Fisher menyatakan tentang ‘plateau yang secara permanen tinggi’ pada tahun 1929,” tambah McGlone.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa “The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) membuat kecenderungan kita menuju sikap yang mirip dengan Babson.”

bitcoin dan krisis

Babson menyampaikan dalam Konferensi Bisnis Nasional di Massachusetts pada September 1929 bahwa “sooner or later a crash is coming which will take in the leading stocks and cause a decline from 60 to 80 points in the Dow-Jones barometer” (“suatu saat crash akan datang yang akan melibatkan saham-saham unggulan dan menyebabkan penurunan dari 60 hingga 80 poin pada barometer Dow-Jones”).

Indeks Industri Dow Jones meningkat hampir enam kali lipat dari angka enam puluh tiga pada Agustus 1921 menjadi tiga ratus delapan puluh satu pada September 1929.

Ledakan besar ini berakhir dengan crash yang sangat mematikan. Dari April 1930 hingga Juli 1932, Dow mengalami kerugian sebesar 89,2 persen.

Menurut pakar Bloomberg tersebut, krisis pasar saham tahun 1929, yang juga disebut sebagai Great Crash, berkontribusi pada Depresi Besar tahun 1930-an yang berlangsung sekitar 10 tahun.

Bank Sentral Amerika Serikat telah meningkatkan suku bunga menjadi tingkat tertinggi dalam 22 tahun, karena terus berusaha melawan inflasi yang persisten dalam ekonomi AS.

Pada bulan Juli, The Fed menaikkan suku bunga kunci sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 5,25 persen-5,5 persen.

Pejabat The Fed telah menyatakan bahwa mungkin diperlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menurunkan inflasi menuju target bank sentral sebesar 2 persen. [az]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.