Jelang Rilis Data Inflasi AS, Mampukah Bitcoin Rebound? — Blockchain Media Indonesia


Pasar aset kripto memulai minggu kedua bulan September dengan berada di zona merah,  dipimpin oleh Bitcoin (BTC) yang sempat menembus dibawah support di US$25,000 untuk pertama kalinya sejak 15 Juni, dimana BTC sempat turun ke US$24.904 pada Senin malam (11/9/2023). Namun, apakah hal ini akan berubah sebelum data inflasi AS rilis?

BTC Dapat Rebound Sebelum Data Inflasi AS Rilis?

Pada Selasa (12/9/2023) per pukul 09.00 WIB pagi ini, Bitcoin kembali diperdagangkan di harga US$25.200 dimana melemah sekitar 2,09 persen dalam 24 jam terakhir, dikutip dari Marketwatch.

Sementara, kapitalisasi pasar Bitcoin turun menjadi US$490 Miliar. Adapun total kapitalisasi pasar aset kripto anjlok dibawah angka US$1 Triliun, dimana berada di kisaran US$989 Miliar.

Menurut Panji, “Dari pergerakan harga, jika Bitcoin gagal bertahan di atas US$25.000, BTC berpotensi lanjut melemah ke area support selanjutnya yang berada di kisaran US$23.500 hingga US$24.000. Sedangkan area resistance terdekat berada di US$26.800 dan selanjutnya di angka US$28.300.”

Mayoritas altcoin juga mengalami penurunan, termasuk Ethereum (ETH) turun sebesar 3,59 persen dalam 24 jam terakhir dan saat ini bertengger di harga US$1.555.

ETH melemah meski telah mendapat sentimen positif sejak pekan lalu karena dua manajer investasi yaitu ARK Invest dan VanEck menggemparkan komunitas kripto dengan mengajukan berkas ETF Ethereum (ETH) spot pada Rabu (6/9/2023).

“Selain secara historis bulan September Bitcoin yang cenderung melemah, salah satu penyebab aset kripto berada di zona merah didorong sikap pelaku pasar yang wait and see dimana Investor pekan ini menantikan rilis lebih banyak data inflasi AS pada minggu ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai kebijakan suku bunga yang akan datang.” kata Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha.

Data Inflasi AS untuk periode Agustus 2023 dijadwalkan rilis pada Rabu (13/9/2023) pukul 19.30 WIB.

Melansir trading economic, pada periode sebelumnya, tingkat inflasi dari sudut pandang konsumen atau indeks harga konsumen (IHK) tahunan di AS meningkat menjadi 3,2 persem pada Juli 2023 dari 3% pada bulan Juni, namun masih dibawah perkiraan sebesar 3,3 persen.

Saat ini, tingkat inflasi AS periode Agustus diperkirakan akan melonjak ke 3,6 persen secara tahunan (yoy) dimana lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,2 persen yoy. 

Apabila inflasi tahunan naik sesuai perkiraan ini bakal menjadi kenaikan kedua yang terjadi setelah mencapai titik terendah 3 persen yoy pada Juni lalu. Namun, kenaikan juga akan memperlebar jarak dengan  target inflasi bank sentral AS (The Fed) di sekitar 2 persen.

Sehari setelahnya, pada Kamis (14/9/2023) tingkat inflasi dari sudut pandang produsen atau indeks harga produsen (IHP) akan dirilis dengan perkiraan IHK tahunan bulan Agustus naik menjadi 1,20 persen yoy, lebih tinggi dari periode Juli di angka 9,80 persen yoy.

Menurut Panji, “Hasil data inflasi pekan ini tentunya akan berdampak ke pasar kripto. Jika hasilnya diatas ekspektasi maka akan berdampak negatif ke aset kripto dan apabila sesuai atau lebih rendah dari perkiraan pasar maka setidaknya mampu menjaga Bitcoin untuk tidak turun lebih rendah dari harga saat ini.

“Selain data inflasi, kebijakan terkait suku bunga AS masih akan menjadi faktor penggerak harga aset kripto kedepannya karena akan menentukan keputusan investor saat berinvestasi,” tambahnya. 

Adapun, pelaku pasar juga menantikan pertemuan kebijakan FOMC yang dijadwalkan September mendatang.

Melansir dari,  CME FedWatch Tool menunjukan peluang sebesar 93 persen bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya di angka 5,25 persen- 5,50 persen pada pertemuan 19-20 September.

“Pelemahan yang terjadi di pasar kripto saat ini memang diakibatkan berbagai faktor. Selain, data yang menunjukkan pasar aset kripto di September yang cenderung negatif dan didukung dari kekhawatiran investor terhadap inflasi dan suku bunga Amerika Serikat menyebabkan investor mengambil sikap risk-off sementara terhadap aset berisiko,” kata Panji. 

“Namun, momentum seperti ini bisa menjadi saat yang tepat bagi investor jangka panjang untuk membangun portofolio di aset kripto.” tambahnya. 

Senin malam (11/9/2023) BTC sempat anjlok ke harga US$24.904 dan Selasa (12/9/2023) pukul 09:00 WIB BTC bertengger di US$25.200 melemah sebesar 2,09 persen 24 jam terakhir.

BTC saat ini berupaya bertahan diatas psikologis support US$25.000, namun jika kembali breakdown dibawah US$25.000 maka berpotensi akan menuju US$23.500 – US$24.000.

Indikator Stochastic bergerak turun menuju area oversold dan MACD histogram bar dalam momentum bullish terbatas.

Selasa (12/9/2023) pukul 09:00 WIB ETH melemah sebesar 3,59 persen bertengger harga US$1.555, ETH, setelah mencapai all time high tahun 2023 di harga US$2.140, ETH bergerak downtrend hingga saat ini berada tepat area support trendline.

Dimana pergerakan sebelumnya ETH mampu rebound di area support trendline-nya, maka untuk saat ini jika ETH mampu bertahan diatas harga US$1.550 maka berpotensi untuk rebound dan lanjut menguat menuju resistance terdekat di US$1.630.

Sebaliknya jika breakdown support trendline-nya, maka ETH akan berpotensi lanjut turun menuju harga USD. Indikator stochastic bergerak turun menuju area oversold dan MACD histogram memasuki momentum bearish. [az]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.